Peter Carey: Diponegoro itu Seorang yang Terbuka dan Humoris

Peter Carey: Diponegoro itu Seorang yang Terbuka dan Humoris

by Juli 7, 2014
Peter Carey (foto:hendijo)

Peter Carey (foto:hendijo)

Orang Indonesia kadung melihat Sang Pangeran Jawa itu sebagai sosok serius, alim dan mungkin sedikit kaku. Namun di mata sejarawan Inggris tersebut, Diponegoro justru merupakan sosok yang menarik dan sangat manusiawi.

PETER CAREY tak menduga ketertarikannya terhadap Revolusi Prancis ternyata berujung kepada sosok Pangeran Diponegoro. Ceritanya, suatu hari di awal tahun 1970-an, ia tengah mengaduk-aduk dokumen lama terkait pengaruh revolusi Prancis terhadap negeri-negeri luar Prancis di  sebuah museum di Belanda. Tiba-tiba matanya terbentur kepada sebuah litograf yang memuat sosok Pangeran Diponegoro yang sedang diiringi oleh para prajuritnya.

“Sekonyong-konyong saya merasa penasaran dan tertarik kepada sosok lelaki berwajah mistis tersebut. Seperti ada sebuah misteri yang harus saya pecahkan,” ujar sejarawan terkemuka dari Oxford, Inggris tersebut.

Peter lantas memutuskan untuk  meneliti hikayat sang pangeran Jawa yang lahir pada 1785 itu. Saat tiba di Indonesia, lelaki Irlandia tersebut menemukan kenyataannya  begitu populisnya Pangeran Diponegoro. Dari anak-anak TK hingga kakek-kakek ompong, pasti hafal dengan sang pangeran yang selalu ditampilkan berjubah putih itu.

Karena jubah putih ini, banyak orang mengidentifikasi  putra tertua Sultan Hamengku Buwono III tersebut sebagai pejuang Islam yang puritan. Tapi benarkah pendapat tersebut? Untuk mendapat jawabannya, Hendi Jo dari arsipindonesia.com  mewawancarai lelaki yang mengaku sudah “bergaul” dengan Diponegoro selama 40 tahun lebih tersebut. Berikut petikannya:

 Peter, setelah lebih 40 tahun anda melakukan penelitian terhadap kehidupan Diponegoro, apa yang anda temukan dari sosok pangeran Jawa ini?

Saya melihat Diponegoro sebagai sosok yang multidimensi. Suatu waktu, ia bisa menjadi seorang tokoh mistik Islam. Tapi hari yang lain, ia juga bisa berubah menjadi seorang sastrawan, pemimpin politik dan seorang panglima perang. Dan soal terakhir ini, bahkan seorang Jenderal De Kock (pimpinan operasi militer tentara Belanda dalam Perang Jawa) mengakui kegigihan Diponegoro. Dia bilang, orang ini (Diponegoro) sepertinya terbuat dari besi. Ya itu dikarenakan Diponegoro tidak kenal lelah untuk terus bertempur dan bertempur

 Itu kan yang bagus-bagusnya, anda melihat sisi manusiawinya dari seorang Diponegoro?

Oh ya, itu pasti. Para seniman keraton Yogya kerap melukiskan Diponegoro sebagai sosok menarik dan kharismatik (walau tidak bisa disebut ganteng seperti Arjuna) hingga ia banyak disukai para perempuan. Secara terus terang dalam Babad Diponegoro, sang pangeran pun tidak berlaku munafik dengan mengakui kelemahannya “ yang mudah tergoda oleh perempuan”. Terkait dengan soal ini, ada sebuah kisah menghebohkan ketika Diponegoro terlibat skandal dengan seorang gadis Tionghoa yang menjadi tukang pijatnya pasca kekalahan mereka di Gawok pada 15 Oktober 1826. Awalnya gadis Tionghoa itu adalah tawanan perang yang diambil dari wilayah Kedaren dekat Delangu.

 Sebagai keturunan raja-raja Jawa, ia pasti memiliki banyak istri…

Oh iya tentu saja. Ia memiliki 4 istri dan 4 selir. Dari mereka, Diponegoro mendapatkan sembilan anak (lima putra dan empat putri). Mungkin ini terdengar sangat buruk buat orang-orang zaman sekarang. Tapi untuk era abad 19 hal tersebut dianggap  wajar-wajar saja, terlebih Diponegoro adalah seorang bangsawan yang pada waktu itu memang sangat biasa memiliki banyak istri dan selir. Menurut saya tidak tepat menghakimi masa lalu dengan standar masa kini

 Konon dia juga memiliki sisi humor yang lumayan?

Ya. Walaupun sumber-sumber Belanda sering menyebut nya sebagai  lelaki yang kaku dan keras, namun dalam kenyataanya Diponegoro  juga seorang humoris. Dalam autobiografinya yang ia tulis dengan huruf Arab pegon, Diponegoro sempat menceritakan sebuah pengalaman lucu dari medan tempur saat ia harus desak-desakan bersembunyi di balik sebuah pohon kweni yang batangnya kecil dengan seorang pamannya yang bertubuh agak gempal. Ia juga kerap mengirimkan pakaian perempuan kepada para panglimanya yang dianggap pengecut.

 Oh ya, ada sebagian kalangan yang menyebut Diponegoro sebagai tokoh Islam puritan, menurut anda?

Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Diponegoro adalah seseorang yang sangat terbuka. Dalam keberagamaan, ia lebih cenderung menganut kejawenisme: mempraktekan ritual mistik Islam sekaligus mengadopsi sikap-sikap asketis yang diambil dari budaya Jawa: seperti ia sering bersemedi di Pantai Selatan, gua-gua kapur di wilayah selatan Jawa. Bahkan ketika mengklaim sebagai ratu adil (eru cokro), ia menyebut-nyebut nama Sunan Kalijogo dan Nyi Roro Kidul.

 Tapi dalam buku Kuasa Ramalan yang anda tulis, disebutkan cita-cita Diponegoro  jika dirinya berkuasa adalah menerapkan hukum syariah?

Betul. Tapi jangan bayangkan syariah yang disebut-sebut Diponegoro sebagai syariah yang sering disebut-sebut oleh kalangan islam politik hari ini. Memang ia  selalu mengacu kepada Turki Ottoman (terutama dalam struktur kepangkatan dan strategi kemiliteran). Namun jangan salah, ia hanya menjadikan Turki Ottoman sebagai acuan politik untuk melakukan gerakan. Kepada para haji yang baru datang dari Mekah, ia kerap menanyakan “situasi politik terakhir” yang melanda Turki Ottoman. Ia kagum terhadap Sultan Hamid dari Turki Ottoman dan menjadikan namanya sebagai nama lain dari dirinya yakni Abdul Hamid.

Jadi seperti apa “negara syariah” yang Diponegoro maksud?

Saat  menuju tanah pengasingan di Sulawesi, kapal yang ia tumpangi melewati Lombok, Flores dan Maluku. Kepada seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman yang menjadi pengawalnya,  ia katakan bahwa daerah-daerah itu dahulu  adalah negara-negara bagian di bawah Kerajaan Majapahit. Diponegoro juga bernostagia betapa dahulu dirinya  kerap berdebat dengan Sentot Ali Basyah Prawiro Dirdjo tentang negara yang akan mereka bentuk jika menang melawan Belanda. Alih-alih mengacu kepada Turki, ia justru menyebut ia akan mendirikan suatu negara seperti Majapahit namun dengan menambahkan unsur-unsur Islam ke dalamnya.

 Kita tinggalkan pribadi Diponegoro, sekarang saya ingin bertanya kepada anda: sejauh mana perlawanan Diponegoro berpengaruh terhadap pihak Belanda?

Yang jelas korban nyawa mencakup angka sekitar 8000 tentara pribumi (tentara bayaran) dan sekitar 7000 bule totok. Di pihak Diponegoro sendiri sekitar 200.000 orang tewas (penduduk Jawa totalnya saat itu 45 juta jiwa), angka  yang tentunya cukup berpengaruh terhadap pengurangan jumlah penduduk pulau Jawa saat itu. Belum ditambah 2.000.000 penduduk di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang secara langsung terkena dampak perang tersebut.

 Apakah ada faktor campur tangan pihak luar negeri dalam Perang Jawa, terutama dari Turki Ottoman karena terkait dengan solidaritas antar kaum Muslim  misalnya?

Sejauh ini dari sumber-sumber Turki Ottoman saya belum menemukan mereka memberikan bantuan kepada pasukan Pangeran Diponegoro. Tapi dari pihak Belanda, saya menemukan data bahwa telik sandi pasukan mereka mencatat desas-desus adanya sebuah kapal berbendera Inggris dan Amerika Serikat  yang berlabuh di muara Kali Progo menurunkan senjata api dan sejenis mesin pembuat mesiu. Kapal itu katanya memiliki tujuan sebenarnya ke Manila di Filipina.

 Begitu alotnya perang tersebut, hingga katanya jika Belanda tidak melakukan gencatan senjata dengan Imam Bonjol di Sumatera, kekuatan militer mereka di Jawa akan hancur lebur?

Ya saya percaya itu. Sebenarnya Belanda akan sangat kewalahan jika harus  menghadapi dua medan perang sekaligus. Makanya saat berhasil memaksakan gencatan senjata di Sumatera, mereka langsung mengalihkan pasukan ke Jawa untuk menumpas perlawanan Diponegoro. Setelah Diponegoro berhasil tertaklukan, mereka pun balik menghantam Imam Bonjol kembali.

 Ongkos perang itu tentunya sangat mahal…

Anggaran Belanda yang tersedot untuk perang di Jawa itu sebesar 25 juta gulden (setara dengan 2 milyar dollar). Karena kebangkrutan itu pula pada fase berikutnya, Belanda membuat kebijakan tanam paksa untuk mengembalikan kestabilan pundi-pundinya. Ya dari  tanam paksa, mereka langsung untung 832 juta gulden (setara dengan 75 milyar dollar).

 (Dalam Sejarah Indonesia Modern, M. C. Ricklefs  menyebut  keuntungan sistem tanam paksa menjadikan perekonomian dalam negeri Belanda stabil: hutang-hutang  luar negeri Belanda terlunasi, pajak-pajak diturunkan, kubu-kubu pertahanan dibangun, terusan-terusan diciptakan, dan jalan-jalan kereta api negara dibangun. Hal yang sebaliknya terjadi pada masyarakat Jawa yang diperas: penyakit  dan kelaparan bertambah merajalela dan kaum miskin melonjak tinggi jumlahnya di desa-desa Jawa).

 Menurut anda, apa yang menyebabkan perlawanan Diponegoro gagal?

Konflik internal. Pertama, adanya pecah aliansi antara Diponegoro dengan Kiyai Mojo. Saat awal bergabung dengan Diponegoro, Kiyai Mojo sangat berharap Diponegoro bisa mengangkat sekaligus menerapkan nilai-nilai islam yang puritan. Alih-alih demikian, Diponegoro malah mengadopsi kehidupan keraton ke markasnya yang bertempat di Goa Selarong. Selain itu, gaya hidup Diponegoro yang lebih cenderung kejaweni dibanding islamis membuat keduanya selalu terlibat dalam perdebatan dan pertengkaran. Hingga akhirnya, Kiyai Mojo dan pasukannya keluar dari barisan Diponegoro dan menyerah kepada Belanda. Kedua, saat Sentot Ali Basyah Prawiro Dirdjo (salah satu panglima Diponegoro) memberlakukan pajak untuk ongkos perang terhadap rakyat, itu ibarat blunder. Kondisi rakyat yang sengsara akibat perang tentunya merasa berat jika harus ditarik pajak terus. Lama-kelamaan dukungan rakyat pun sirna. Alih-alih memberi dukungan, mereka malah memboikot asupan logistik untuk pasukan Diponegoro dan itu dilakukan dengan perlindungan tentara Belanda.

 Banyak kalangan bilang perjuangan Diponegoro semata-mata disebabkan oleh soal tanah moyang Diponegoro yang diserobot oleh Belanda untuk pembangunan jalan kereta api. Benarkah?

Itu tidak benar sama sekali. Perlawanan Diponegoro terhadap Belanda murni didasari oleh ketidaksukaan sang pangeran terhadap tindakan sewenang-wenang yang dijalankan oleh Belanda  terhadap rakyat dan campur tangan Belanda terhadap kehidupan di keraton. Buktinya, jauh sebelum peristiwa penyerobotan yang terjadi pada Juli 1825 itu, pihak Diponegoro sudah mempersiapkan logistik, amunisi dan mesiu hasil sumbangan para priyayi dan kerabat-kerabat keraton yang tidak suka terhadap Belanda. Jadi kejadian tersebut hanya sebagai salah satu pemantik saja.

 Sebagai peneliti yang sudah “bergaul” dengan Diponegoro selama 40 tahun lebih, menurut anda bagaimana seharusnya orang Indonesia “memperlakukan” Diponegoro?

Saya pikir orang Indonesia harus menciptakan suatu sejarah yang sehat mengenai Diponegoro. Jangan sekali-kali “menyandera” Diponegoro hanya sebagai milik golongan islam, nasionalis, jawa, kaum santri semata. Caranya, bebaskan semua orang menulis apapun tentang Diponegoro, baik itu sisi kemanusiannya, sisi militer, sisi kesantriannya, sisi kepatriotannya bahkan sisi mistiknya sekalipun. Semua harus dibedah []

 

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.