Agus Sunyoto: Mitologisasi Wali Songo itu Ulah Belanda

Agus Sunyoto: Mitologisasi Wali Songo itu Ulah Belanda

by Maret 24, 2015
Buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto (sumber:Mizan)

Buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto (sumber:Mizan)

Usai menamatkan buku Ensiklopedia Islam, hati Agus Sunyoto tiba-tiba tersentak. Dalam buku yang diterbitkan oleh Ikhtiar Baru Van Houve tersebut, ia sama sekali tak menemukan satu pun kata yang menyebut Wali Songo. Ingatannya kemudian melayang kepada sebuah buku lain berjudul Walisanga Tak Pernah Ada? karya Sjamsudduha, yang pernah dibacanya beberapa waktu sebelumnya.

“Saya pikir adalah ahistoris, kalau ndak mau saya bilang naif, saat kita membahas perkembangan Islam di Indonesia, sama sekali tidak menyebut nama Wali Songo”, ujar sejarawan kelahiran Surabaya, 57 tahun yang lalu itu.

Istilah wali songo memang kadung dimengerti oleh sebagian besar masyarakat Islam Indonesia hanya sebagai mitologi. Itu setidaknya tercermin dari cerita-cerita yang berserakan di kalangan masyarakat yang hanya mengidentikan Wali Songo dengan soal-soal karomah, keajaiban dan realita supranatural yang kadang tidak terjangkau otak manusia modern. Yang terjadi adalah sejarah Wali Songo jika tidak dipuja-puja berlebihan malah dijadikan bahan ejekan oleh sebagian orang untuk merujuk sebuah kepercayaan agama yang berbau tahayul dan tidak rasional.

Agus tentu saja prihatin dengan kondisi seperti itu. Dengan mengandalkan dana yang tidak besar dan didapat dari sumbangan sana sini,  ia lantas memutuskan untuk membuat sebuah penelitian sejarah ilmiah terkait dengan Wali Songo. Beberap tahun kemudian jadilah  penelitiannya tersebut menghasilkan sebuah buku yang diberi judul Atlas Wali Songo terbitan Pustaka Iman (bagian dari Mizan Group) pada 2012.

Benarkah Wali Songo hanya mitos belaka? Bagaimana sesungguhnya kisah sejarah 9 lelaki yang selama ini disebut-sebut sebagai para pionir islamisasi di tanah Jawa dan Nusantara itu?  Beberapa waktu lalu, Hendi Jo dari Arsip Indonesia berkesempatan berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto. Berikut petikannya:

Mas Agus, saya mendengar penulisan buku ini, berawal dari “kekesalan” anda saat mengetahui sebagian masyarakat Islam tidak mengakui eksistensi Wali Songo dalam sejarah Islam di Indonesia, benarkah itu?

Kesal sih ndak. Saya cuma ingin meluruskan bahwa kenyataan sejarah justru membuktikan bahwa setelah 800 tahun penyebaran Islam di Nusantara mengalami kemandekan dan tidak bisa diterima secara luas. Justru di era Wali Songo-lah Islamisasi bisa berjalan secara massif. Ini kan realitas sejarah yang membuktikan bahwa Islamisasi itu adalah hasil jerih payah Wali Songo.

Memang menurut kepercayaan anda, Islam kapan sih datang ke Indonesia?

Sudah sejak tahun  674 Masehi, Islam sudah menginjakkan kaki di Jawa. Itu didasarkan pada berita yang disampaikan orang-orang Cina di era Dinasti Tang yang menyebut  tentang kehadiran orang-orang Tazhi (Arab) di Kerajaan Kalinga yang dipimpin oleh Ratu Shima. Orang-orang Tazhi yang mayoritas adalah para pebisnis itu sangat kagum dengan kondisi Kalinga yang walaupun belum mengenal Islam, tapi situasinya aman sejahtera.

Mereka lantas menyebarkan Islam?

Ya, tapi bisa disebut kurang berhasil. Mengapa? Bisa jadi itu terkait dengan cara penyampaian mereka yang kurang memperhitungkan kondisi sosial budaya setempat, sehingga orang-orang Jawa kurang tertarik kepada Islam. Situasi tersebut berlangsung sampai 800 tahun lamanya.

Kemunculan Wali Songo memecah kebuntuan tersebut?

Ya betul sekali. Karena Wali Songo sangat paham dengan kultur sosial yang berlaku di kalangan masyarakat Jawa menjadikan dakwah Islam yang mereka sampaikan diterima secara baik. Mereka masuk bisa lewat wayang, kidung-kidung lokal yang dimodifikasi dengan subtansi Islam, ya banyaklah hal yang membuktikan bahwa dakwah yang mereka lakukan sangat fleksibel sehingga tanpa harus kehilangan subtansinya, orang merasa tertarik dengan Islam.

Jika betul Wali Songo adalah fakta sejarah, lalu mengapa muncul pendapat yang menyebut keberadaan mereka hanya mitos belaka?

Awalnya itu karena politik Belanda. Pasca Perang Diponegoro (1825-1830), Belanda sangat phobi kepada hal-hal yang berbau Islam dan tarekat. Karena itu, dimunculkanlah bahwa seolah-olah Islam adalah kekuatan yang tak jelas asal usulnya dengan menciptakan berbagai cerita-cerita mitos.. Jadi ya mitologisasi Wali Songo itu jelas ulah Belanda

Apa usaha nyata dari Belanda untuk membuat Wali Songo terahistorisasi di

Sejarawan Agus Sunyoto (foto:hendijo)

Sejarawan Agus Sunyoto (foto:hendijo)

Nusantara?

Ada sebuah kitab yang bernama Babad Kediri. Ini kitab dibuat tahun 1832, dua tahun setelah Perang Diponegoro berakhir. Ceritanya, seorang jaksa pribumi bernama Porbowijoyo mendapat proyek dari Residen Kediri yang Belanda totok untuk membuat sebuah cerita yang mengecilkan peran Wali Songo. Lantas sang jaksa membayar seorang dalang yang entah bagaimana ia lalu kesurupan. Dalam situasi “kesurupan” itulah, si dalang meracau. Isinya bercerita tentang sejarah Kediri dan pendeskreditan Sunan Bonang, Sunan Giri dan sunan-sunan lainnya. Isi racauan inilah yang kemudian dicatat oleh sang jaksa dan dijadikan kitab berjudul Babad Kediri.

Saya heran, mengapa justru cerita versi orang kesurupan ini, bisa lolos dalam sejarah kita?

Ya para sejarawan kita kan umumnya didikan Belanda. Yang kata Belanda benar, ya benar juga kata mereka. Termasuk racauan orang kesurupan kalau datangnya dari Leiden ya itu jadi sejarah.

Beralih kepada konflik Syeikh Siti Jenar vs Wali Songo, itu benar-benar terjadi?

Sebetulnya sih yang berkonflik itu bukan Syeikh Siti Jenar lawan Wali Songo, tapi Siti Jenar vs Sultan Trenggono, anaknya Raden Patah yang pendiri Kesultanan Demak itu. Ceritanya, Siti Jenar yang didikanBaghdad (di Baghdad hubungan penguasa dan rakyat sangat egaliter) itu merasa jengah melihat orang-orang Jawa begitu feodalnya hingga memperlakukan para penguasanya layaknya Tuhan. Sebagai contoh, kalau menghadap raja, rakyat harus sujud. Lalu kata “ing sun” yang artinya aku hanya berhak diucapkan oleh raja, rakyat hanya boleh memakai kata “kawulo” yang artinya budak. Nah Syeikh Siti Jenar merasa prilaku itu “mengotori” ketauhidan seorang muslim. Ia lantas mbalelo(berontak). Caranya, dengan secara sengaja mempraktekan kata “ing sun” untuk dirinya dan para pengikutnya serta menolak mentah-mentah untuk bersujud kepada raja. Dalam perspektif politik Sultan Trenggono ini jelas subversiv dong. Maka dikejar-kejarlah dia sebagai musuh negara dan agama.

Katanya Syeikh Siti Jenar tertangkap lantas dipancung?

Ah enggak benar itu. Pemancungan itu cuma mitos saja. Yang benar adalah Syeikh Siti Jenar lantas disembunyikan oleh Sunan Gunung Jati, hingga ia wafat biasa di Cirebon. Lha dia kan orang Cirebon.

Terakhir nih Mas, orang kita biasanya kalau menganalisa sejarah menggunakan konsep mitos-logos yang dipakai oleh para bule untuk menganalisa sejarah mereka, dalam kasus Wali Songo ini menurut saya tentunya tidak tepat menggunakan konsep itu sebagai pisau analisa. Bagaimana menurut Mas Agus?

Mitos logos itu kan produk modernisme. Sangat tidak relevan jika itu dipakai sebagai pisau untuk menganalisa sejarah kita yang pemahamannya sering berbeda dengan Barat. Jika dipaksakan kita akan menjadi orang-orang yang disebut Derrida (maksudnya Jacques Derrida, filsuf post modernisme asal Prancis) sebagai korban logosentrisme. (hendijo)

 

 

18 Comments so far

Jump into a conversation
  1. saifur
    #1 saifur 25 Maret, 2015, 02:54

    Sebuah pencerahan sejarah tentang eksistensi peran penting Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia

    Reply this comment
  2. birru
    #2 birru 25 Maret, 2015, 09:28

    Terima kasih…… ini sebenarnya genting tetapi terkesan tidak penting….terima kasih (lagi)

    Reply this comment
  3. FABELIA
    #3 FABELIA 26 Maret, 2015, 15:57

    Sebenarnya warisan walisongo dalam bentuk ritual keagamaan tu banyak, apakah semua itu sudah semuanya disebutkan di buku atlas walisongo?

    Reply this comment
  4. edo
    #4 edo 26 Maret, 2015, 16:29

    gmn saya bs percaya sm anda, kalau saja anda lahir Pasca Perang Diponegoro (1825-1830) mungkin saja saya percaya..

    Reply this comment
    • Raden Palguno
      Raden Palguno 10 Juli, 2015, 22:03

      Walisonog agak berhasil di pesisir utara jawa tengah setelah menghasut Raden Patah menggulingkan ayahnya sendiri Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V atas hasutan dan bantuan walisongo.

      Reply this comment
    • wahssri
      wahssri 11 Juli, 2015, 19:22

      Kalau ngomong kya gtu ya ga bakalan ada sejarahwan…

      Reply this comment
    • BRAM
      BRAM 27 Juli, 2015, 13:47

      Beliau ini kan memang lahir pasca perang Dipenogoro.

      Reply this comment
    • Multatuli
      Multatuli 29 Juli, 2015, 03:11

      Percaya Adam AS ada nggak? Ngapain anda percaya Adam AS ada kalau yang ngomong Muhammad SAW yang lahirnya tahun 600-an Masehi?

      Reply this comment
    • Agus
      Agus 24 Maret, 2016, 23:26

      Apa semua orang harus lahir pada tahun yang sama dengan tahun sejarah itu terjadi…?

      Reply this comment
  5. Me
    #5 Me 12 Juli, 2015, 09:00

    Haha…kenapa ga bilang ulah Yahudi, ato Isreal aja Pak,skalian aja ngaconya!

    Reply this comment
  6. Kang Aldie
    #6 Kang Aldie 22 Agustus, 2015, 12:13

    Konsepsi sejarah banyak sekali dengan sengaja didistorsi oleh kaum kolonialis. Lebih-lebih Belanda dan kalangan dunia barat. Anehnya sebagian masyarakat Nusantara membebek dan mengamini westrenisasi sejarah tersebut dengan mantap, bahkan kalangan akademisi sekalipun. Harapan saya, Bapak Agus Sunyoto sebagai tokoh yang membidangi hal ini sudah saatnya membuat suatu konsep sejarah yang dapat dipergunakan oleh kalangan generasi masa depan Nusantara. Tulisan di atas menarik, meskipun hanya secuplik. Namun yang pasti, bangsa Nusantara ini harus mandiri dan berdaulat dalam hal apapun, diawali sejarah agar tak lupa diri.

    Reply this comment
  7. paradiso
    #7 paradiso 13 November, 2015, 15:01

    semoga semakin terbuka sejarah nusantara kita…saya sangat salut kepada KH. Agus Sunyoto…, semoga panjang umur pak yai……..

    Reply this comment
  8. menimpuk
    #8 menimpuk 9 Januari, 2016, 09:40

    ada estafet tradisi belajar di pesantren yg tidak berubah dan terus berkelanjutan hingga sekarang. terutama tentang tradisi sanad keilmuan. yg diherankan dan disayangkan, akademisi kita tidak menarik itu ke ranah penelitian sejarah keislaman di nusantara. demikian pula silsilah alawiyin di nusantara. adakah di antara mereka termasuk di dalam apa yg kita sebut kemudian sebagai “walisongo”.

    Reply this comment
  9. Chepkum1ngs
    #9 Chepkum1ngs 17 Maret, 2016, 09:00

    saatnya sejarah bangsa (dlm hal ini sejarah walisongo) untuk di luruskan dan di dudukan sebagaimana fakta yg paling sahih.

    Reply this comment
  10. Ahmadi
    #10 Ahmadi 24 Maret, 2016, 02:03

    Apa benar dahulu wali songo menyebarkan islam di jawa dengan pendekatan budaya terutama dengan wayang wong sampai sekarang wayang tdk ada yg berjilbab bahkan bajunya saja agak terbuka bagian dada . Banyak sejarah sekarang yg menghalus2kan kisah yg sebenarnya.

    Reply this comment
  11. Pesona Bunga
    #11 Pesona Bunga 27 Maret, 2016, 07:39

    benarkah? jadi bingung dengan sejarah.

    Reply this comment
  12. Bayik
    #12 Bayik 18 Mei, 2016, 06:38

    Soal Syekh Siti Jenar… kok beda dengan yang saya baca dari Serat Centhini.

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.