Posts From hendijo

Misi Culik Petinggi Republik

Yogyakarta, Maret 1948. Perintah itu datang begitu tiba-tiba. Selaku komandan pasukan yang saat itu ada di bawa wewenang Daerah Militer II, Kapten Solichin G.P. diinstruksikan oleh Gubernur Militer Wilayah II Kolonel Gatot Soebroto dan Menteri Negara Republik Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menculik seorang professor berinisial OE. “ Orang ini kata Pak Gatot dicurigai akan “mengacaukan” rapat Komisi Tiga Negara yang beberapa hari lagi akan diadakan di Kaliurang,” ujar Komandan Kompi 5 Yon Nasuhi (masuk Divisi Siliwangi) itu. Kapten Solichin lantas membentuk satu tim kecil untuk melaksanakan tugas tersebut. Mereka terdiri dari prajurit-prajurit andal dari Kompi 5, yakni Karli Akbar Yoesoef (komandan regu) Den Ucen, Ewiw, Ulo alias Surya

Read More

SEORANG KOMANDAN BERNAMA ISMAN

Bertempat di Istana Negara, pada 5 November 2015, Presiden Joko Widodo telah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada lima orang yang dianggap berjasa dalam pendirian negara ini. Dari kelima orang itu tersebutlah nama Mayor Isman alias Mas Isman. Siapakah dia? Isman adalah salah seorang pemuda idealis di zamannya. Ketika militer Inggris menyerbu Surabaya, ia meninggalkan kehidupan sehari-harinya guna mempimpin perlawanan ratusan anak-anak muda pelajar di Surabaya. Dalam buku Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (Bagian I) karya Dra. Irna H.N. Hadi Soewito disebutkan bahwa kelompok perlawanan kaum pelajar itu mengambil sebuah gedung di Jalan Darmo No.49 sebagai markas besarnya. “ Makanya kelompok itu dikenal sebagai BKR (Badan Keamanan Rakyat) Darmo…” tulis Irna.

Read More

Dusun Kristiani di Kota Santri

Terkenal sebagai gudang pesantren, Cianjur menyisakan satu komunitas Kristen yang sudah ada sejak lebih dari seratus tahun lalu. Bagaimana sejarah keberadaan mereka dan interaksi antara dua komunitas berbeda keyakinan di sana? MATAHARI senja sudah bergerak ke arah barat. Namun hawa hangatnya masih tersisa memenuhi kawasan Palalangon. Di tanah lapang dekat gereja tua, seorang lelaki muda berjaket hitam itu tertegun. Seraya mengernyitkan dahinya, ia memandang salah seorang dari dua perempuan yang tengah asyik ngobrol di depan halaman gereja, nampak sekali ia tengah mengingat sesuatu. Sejenak ia tersenyum. Lantas dengan langkah pasti didekatinya salah satu dari perempuan yang paling muda. “Teh Esty ya?” Apa kabar?” ujarnya sambil menyodorkan tangan kanannya. Kini giliran

Read More

Pejuang Asing Ditangkap Militer Belanda

AWAL Agustus 1948. Bermodalkan informasi dari seorang telik sandi asal Garut, satu tim pemburu yang terdiri dari prajurit-prajurit pilihan Bataliyon 3-14-RI KL bergerak ke kaki Gunung Dora yang terletak di perbatasan Garut-Tasikmalaya. Misi mereka tak lain ingin meringkus (hidup atau mati) tiga mantan serdadu Jepang yang selama Perang Kemerdekaan membelot ke kubu Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hasegawa alias Abubakar, Mashasiro Aoki alias Oesman serta Yang Chil Sung alias Komaroedin (nama terakhir belakangan diketahui berasal dari Semenanjung Korea) merupakan “monster-monster” yang ditakuti oleh militer Belanda di Garut. Selain kemampuan tempur dan ketrampilan gerilya mereka, para gerilyawan asing anggota Kesatuan Pangeran Papak pimpinan Mayor E.Kosasih tersebut dikenal karena keberanian mereka yang banyak

Read More

Rekam Jejak Desersi Nippon

Sebuah memoir pertama dari seorang tentara Jepang yang memilih berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Sarat dengan kisah-kisah kepahlawanan yang membahana. Tahun 2001, dunia sinema tanah air pernah diramaikan dengan munculnya Merdeka 170845. Film yang merupakan produksi bersama Tokyo Film Production dan Rapi Film itu, berkisah tentang dua serdadu Jepang yang membelot dan berpihak kepada perjuangan orang-orang Indonesia. Namun di tanah air sendiri, peredaran film tersebut justru terjegal. Pemerintah Indonesia tidak berkenan karena menilai beberapa adegannya merendahkan harga diri bangsa. Dan belakangan banyak juga kritikus film curiga, Merdeka 170845 tak lebih sebagai upaya membangkitkan kembali semangat chauvinism oleh kelompok kanan di Jepang. Kini sesudah sepuluh tahun terjegalnya Merdeka 170845, kisah yang sama

Read More

Agus Sunyoto: Mitologisasi Wali Songo itu Ulah Belanda

Usai menamatkan buku Ensiklopedia Islam, hati Agus Sunyoto tiba-tiba tersentak. Dalam buku yang diterbitkan oleh Ikhtiar Baru Van Houve tersebut, ia sama sekali tak menemukan satu pun kata yang menyebut Wali Songo. Ingatannya kemudian melayang kepada sebuah buku lain berjudul Walisanga Tak Pernah Ada? karya Sjamsudduha, yang pernah dibacanya beberapa waktu sebelumnya. “Saya pikir adalah ahistoris, kalau ndak mau saya bilang naif, saat kita membahas perkembangan Islam di Indonesia, sama sekali tidak menyebut nama Wali Songo”, ujar sejarawan kelahiran Surabaya, 57 tahun yang lalu itu. Istilah wali songo memang kadung dimengerti oleh sebagian besar masyarakat Islam Indonesia hanya sebagai mitologi. Itu setidaknya tercermin dari cerita-cerita yang berserakan di kalangan masyarakat yang hanya mengidentikan

Read More

Jurnalis Dunia dalam Revolusi Indonesia

Kecamuk perang yang melanda Indonesia pada 1945-1949, tak lepas mengundang kehadiran para jurnalis untuk meliputnya. Dari Indonesia sendiri hadir Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis serta fotografer Frans Mendoer cs dari IPPHOS. Belanda juga menurunkan wartawan-wartawan seperti Hasselman dan Charles Brejer. Nama terakhir merupakan fotografer yang paling banyak mengambil gambar yang melukiskan situasi-situasi perang di Jawa, termasuk sisi manusiawinya. Fotografer asal Prancis Henri Cartier Bresson juga termasuk ciamik merekam situasi-situasi Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan salah satu essai foto-nya di Majalah LIFE berjudul ” Young Men Are Both The Peril and The Hope” termasuk salah satu laporan paling legendaris mengenai Indonesia era revolusi. Tak kalah dengan para jurnalis tersebut, pada

Read More

Malam Jahanam di Laut Arafura

Junus Rupami (78) masih mengingat awal terjadinya neraka itu. Di malam jahanam tersebut, ia menyaksikan nyala kembang api menerangi haluan KRI Macan Tutul. Para prajurit dan kelasi berteriak-teriak panik. Rupanya kembang api itu disebabkan oleh tembakan pesawat Belanda jenis Neptune yang terbang di atas mereka setinggi kira-kira 3000 kaki dari permukaan laut. Sejurus kemudian pesawat itu hilang dari pandangan. ” Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya…” kenang mantan gerilyawan sukarela Papua pro Indonesia tersebut. Belum selesai otak Junus mengira-ngira, beberapa menit kemudian tiba-tiba deru suara pesawat itu kembali meraung diatas KRI Macan Tutul. Pesawat itu lagi-lagi melontarkan bom ke arah satuan MTB. Air laut menyembur tinggi di kanan-kiri Macan

Read More

Suatu Hari di Sudut Wisma Yaso

 Kisah pertemuan terakhir dua sahabat: Sukarno-Hatta Jakarta 1970. Lelaki berwajah lembut itu bergegas memasuki Wisma Yaso. Begitu ia sampai di sebuah sudut ruangan berupa kamar, roman mukanya tiba-tiba berubah. Di atas ranjang tua bersprei putih lusuh, berbaring lemah Sang Pemimpin Besar Revolusi yang sudah terguling itu. Sementara di meja samping tempat tidur, segerombolan ngengat tengah berpesta pora menggerogoti satu sisir pisang yang entah sudah berapa hari ada di sana. Melihat itu, tiba-tiba saja, ia merasakan rasa nyeri yang begitu mendalam di hatinya. Begitu nyeri, hingga kristal-kristal bening tiba-tiba muncul di kedua matanya, seolah menjadi duta bagi perasaannya itu. Tapi ia cepat menguasai diri kembali dan menyapa dalam nada lembut dan

Read More

Di Balik Baju Zirah yang Berlubang

Kendati sudah berusia 487 tahun, baju-baju zirah itu masih terlihat garang. Kalaupun ada cacat alami itu hanya guratan-guratan kecil berwarna hijau toska keputih-putihan tanda korosi (karat) di sebagian pinggiran besi yang mirip kulit binatang trenggiling tersebut. Namun uniknya, hampir sebagian besar baju zirah milik tentara Portugis itu berlubang. ” Ini akibat tertembus tombak dan anak panah prajurit gabungan Cirebon dan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah,”ungkap R. Hafid Permadi, salah satu pemandu di Istana Kanoman, Cirebon, tempat beradanya baju-baju zirah itu. Saat menelisik secara lebih mendalam lubang-lubang di baju zirah itu, pikiran saya sampai pada kesimpulan: senjata-senjata tajam yang berhasil merobek besi kekuning-kekuningan dan memutus rantai-rantai kecil yang menjadi pengikat serpihan

Read More