Posts From admin

Prof. Dr. Anhar Gonggong : Kita Amnesia Sejarah, Pancasila Masih Sebatas Slogan

Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah titik kulminasi perjuangan bangsa untuk membentuk negara yang merdeka, bersatu dan berdaulat. Munculah semangat nasionalisme, persatuan-kesatuan diikat oleh dasar Pancasila. Lahirnya Pancasila, diambil dari pidato Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Junbi Cosakai) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato itulah konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Namun, sepanjang sejarah, Pancasila selalu diuji, dirongrong oleh berbagai ideologi lain. Tetapi Pancasila selalu tegar dikukuhkan faktor sejarah satu tanah air, satu bahasa, satu bangsa. “Bangsa ini seringkali mengalami amnesia sejarah. Kemerdekaan di tahun 45-an berhasil ditegakkan, tetapi perjuangan kita belum usai. Justru saat menjadi bangsa merdeka itulah

Read More

Yang Tersisa dari Rawagede 1947

Bagaimana para saksi sejarah sebuah pembantaian massal coba berdamai dengan trauma masa lalu mereka HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang nan rombeng dekat pantai, seorang perempuan uzur tertatih-tatih menyambut kedatangan saya dan dua kawan dari Historika Indonesia: Imam Rachmadi dan Abdul Basyit. Tubuhnya bergetar karena pengaruh usia. “Hati-hati Nek…” ujar saya seraya memapah tangan kanannya. “Kita bicara di depan saja, jangan di sini, gelap…” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di

Read More

Mereka Yang Ditinggalkan

Suatu hari di bulan Mei 1948. Senja mulai memasuki Curug Sawer yang dingin. Suara air terjun bergemuruh memerangi suasana sunyi di kawasan yang terletak dalam wilayah Cianjur Selatan itu. Diapit tebing tinggi dan jurang menganga, iring-iringan konvoi militer Belanda merayap di jalan sempit. Beberapa serdadu bule di dalamnya nampak tegang, sebagian di antara mereka menghisap rokok untuk mengusir rasa takut. Senjata-senjata mereka siap ditembakan. Begitu jip pengawal iring-iringan lewat, rentetan tembakan berhamburan dari atas tebing-tebing tinggi. Granat-granat melayang dibarengi teriakan nyaring yang membuat suasana semakin mencekam. Di balik sebuah pohon besar, Kopral BM. Permana menembakan Stengun-nya. Begitu juga dengan pimpinan pasukan, Letnan Djadja Djauhari tak henti-henti menembakan pistol seraya memberi

Read More

Turun Gunung Para Maung

Perintah Kolonel AH. Nasoetion itu datang begitu tiba-tiba. Namun sebagai petugas intelijen Divisi Siliwangi, Letnan Muda Soedarja harus melaksanakan intruksi panglimanya tersebut: menjadi perwira penghubung dengan pihak militer Belanda dalam pelaksanaan mobilisasi terkait hasil Perjanjian Renville di Sumedang. Langkah pertama yang dilakukan oleh Soedarja adalah berkoordinasi dengan wakil  dari pihak militer Belanda. Berdasarkan kesepakatan dengan Letnan Kolonel JJ. Malta, perwira menengah dari Divisi 7 Desember , ia harus menyampaikan sepucuk surat kepada  Kapten Sentot Iskandardinata dari Batalyon 27. Isinya: perintah Kolonel AH. Nasoetion agar “para maung ” (artinya para harimau: julukan untuk para prajurit Divisi Siliwangi) turun gunung dan berangkat hijrah ke wilayah Jawa Tengah. Bersama Letnan Omon dan tiga

Read More

Perjudian Politik Bernama Renville

Saat disebut nama “Renville”, wajah Letnan (Purnawirawan) Alleh (90) yang semula sumringah tiba-tiba berubah menjadi muram. Sorot matanya yang riang seketika menajam. “Perjanjian sialan! Karena perjanjian itu, hidup kami banyak berubah…” kata mantan petarung dari Divisi Siliwangi dalam nada pahit. Sesungguhnya bukan hanya hanya Alleh yang merasakan hal demikian. Para petinggi Divisi Siliwangi seperti almarhum Letnan Kolonel Kawilarang  saat itu juga merasakan hal yang sama terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari Pejanjian Renville antara Indonesia dengan Belanda. “…Tiba-tiba kami mendengar tentang adanya Perundingan Renville yang menyebabkan kami harus hijrah. Bukan main bencinya saya. Seperti tersambar halilintar di siang bolong rasanya. Tetapi sebagai tentara, kami harus tunduk kepada perintah atasan…” ujar Komandan

Read More

Jalan Sunyi Para Petarung Tua

Di zamannya, mereka adalah manusia-manusia pemberani: tanpa mengenal pamrih, siap menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia merdeka. Kini mereka menapaki masa-masa tuanya dalam sunyi. JUMAT, 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta. Beberapa hari usai proklamasi tersebut, berbondong-bondong anak muda menyatakan diri untuk membela Republik Indonesia yang baru didirikan itu. Tekad itu semakin kuat, manakala lewat “perantara” Inggris (yang tugas utamanya mengurusi tawanan perang di Indonesia), orang-orang Belanda datang kembali dan secara sepihak mendirikan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) di Indonesia. Pendirian NICA oleh Van Mook dan kawan-kawannya, direspon secara keras oleh para pemuda Indonesia. Mereka lantas membentuk berbagai badan perjuangan dan kelompok bersenjata sebagai upaya

Read More

Seorang India di Kubu Republik

Suatu hari di akhir-akhir tahun 1945. Sebuah iring-iringan konvoi pasukan Inggris dari British Indian Army (BIA) dihadang sekelompok lasykar republik di Bogor. Para penghadang terdiri dari anak-anak muda bersenjatakan beberapa pucuk bedil usang dan parang. Namun dalam waktu cepat, para serdadu BIA yang jauh lebih berpengalaman itu justru malah balik bisa mengepung dan menjadikan anak-anak muda tersebut bertekuk lutut. Usai mengumpulkan para tawanan, salah seorang opsir mereka menyampaikan ceramah pendek di hadapan anak-anak muda itu. “ Isinya nasehat supaya anak-anak kita jangan melawan, karena katanya mereka bersimpati terhadap perjuangan kita. Dianjurkan pula oleh opsir itu agar anak-anak berlatih dahulu sebelum turun dalam suatu pertempuran sungguh-sungguh…” ungkap Jenderal (Purn) A.H Nasution

Read More