Archive

Sambut Sumpah Pemuda, Museum Gelar Pameran “Emma Poeradiredja”

Museum Sumpah Pemuda menampilkan biografi salah satu anggota perempuan Kongres Pemuda, yaitu Emma Poeradiredja, dalam pameran “Emma Poeradiredja Tokoh Pejuang Wanita Tiga Zaman” pada 26 Oktober hingga 26 November di Jakarta. Kepala Museum Sumpah Pemuda Uryati di Jakarta, Kamis, mengatakan ini adalah kali pertama museum tersebut menampilkan tokoh perempuan yang terlibat dalam Kongres Pemuda. “Selama ini kami selalu menampilkan tokoh laki-laki, padahal pada kongres tersebut juga ada perempuan. Karena itu, kami tertarik menampilkan tokoh Emma,” kata Uryati. Dia mengatakan dipilihnya tokoh Emma Poeradiredja karena dia sudah aktif berjuang sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, hingga setelah kemerdekaan. Emma hadir pada Kongres Pemuda I pada 30 April hingga 2 Mei 1926 sebagai

Read More

Cicih Wiarsih

Nama lengkapnya adalah R.A.Cicih Wiarsih. Putri dari R.A.A.Prawiradiredja II (bupati Cianjur ke-10) itu lahir di Cianjur pada 21 April 1901. Sebagai seorang guru perempuan, Cicih sangat peduli terhadap pendidikan kaumnya. Ketika seorang aktivis perempuan Cianjur bernama Ibu Jenab berinsiatif mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum perempuan, ia tampil sebagai pendukung utama. Aktifitas Cicih juga tidak hanya sekitar dunia pendidikan. Tercatat, beliau pernah menjadi anggota volksraad (parlemen di era pemerintah Hindia Belanda), Ketua Pasundan Istri dan penggerak Palang Merah Indonesia (PMI) di Cianjur. Bersama Gatot Mangkoepradja, H.Taifur Yusuf, Hasyim Ning dan tokoh-tokoh pergerakan Cianjur lainnya, Cicih pernah terlibat dalam pendirian PETA (Pembela Tanah Air) pada 5 September 1943. Hingga di masa senjanya,

Read More

Aria Cikondang

Aria Cikondang merupakan gelar untuk Arya Wiradimanggala, putra ketiga dari Bupati Cianjur pertama, Raden Aria Wiratanu I (1677-1691).  Kecintaannya kepada tanah air dan ilmu kemiliteran menjadikan sosok Arya Cikondang dikenal dengan sikap tegasnya. Karena sikap tegas itu pula, Arya Cikondang tidak menginginkan Nagri Cianjur tunduk kepada siapapun, termasuk kepada Kerajaan Mataram yang saat itu dikenal sebagai salah satu penguasa di Nusantara. Hal yang berbeda dianut oleh kedua kakaknya yang lebih memilih sikap taktis terhadap kekuasaan Mataram. Tahun 1691,  Raden Arya Wiratanu I mangkat. Sebagai penggantinya didapuklah Arya Wiramanggala dengan gelar Raden Arya Wiratanu II (1691-1707).  Di tahun kedua kekuasaan Raden Arya Wiratanu II, Mataram menuntut Nagri Cianjur untuk takluk kepada

Read More

Soeroso

Suroso merupakan salah satu pimpinan lasykar BBRI (Barisan Banteng Republik Indonesia) di Cianjur. Sejak kedatangannya pada 1946,  pemuda asal Bogor yang dikenal  sangat militan itu, menjadi pelatih militer bagi para pemuda Cianjur. Dalam rentetan pertempuran konvoi di wilayah Cianjur pada 1945-1946, Suroso  berlaku sebagai pimpinan gerilyawan kota yang berhasil mengganggu pergerakan Bataliyon 3/3 Gurkha Rifles The Fighting Cock Division, salah satu pasukan yang memiliki banyak pengalaman tempur dalam Perang Dunia ke-2. Bersama gerilyawan-gerilyawan lain dari  Yon 3 Resimen III TRI, Hizbullah dan Sabilillah, BBRI pimpinan Suroso melakukan penyerangan lewat aksi hit and run terhadap Yon 3/3 Gurkha Rifles yang diperkuat oleh peralatan tempur modern saat itu . Kendati hanya menggunakan

Read More

Pangeran Hidayatullah

Nama lengkapnya adalah Sultan Hidayatullah Halilillah bin Pangeran Sultan Muda Abdurrahman. Namun lebih dikenal sebagai Pangeran Hidayatullah II. Lahir di Martapura, Kalimantan Selatan pada 1822. Sejatinya, Hidayatullah bukanlah sembarang pangeran. Dia merupakan salah satu pemimpin perlawanan rakyat Kalimantan Selatan yang sangat kharismatik dalam Perang Banjar (1859-1905). Begitu keras sikapnya terhadap pemerintah Hindia Belanda, hingga dia dijuluki sebagai musuh nomor satu. Dalam buku De Banjermasinche Krijg 1859-1863, seorang veteran Perang Banjar bernama W.A. Van Rees menyebutnya sebagai hoofdopstandeling alias kepala pemberontak. Pada 1862, militer Belanda melalui cara yang curang berhasil menangkap Pangeran Hidayatullah. Ia kemudian dibuang ke ke Cianjur, tempat yang menjadi penjara besar bagi dirinya, hingga wafat pada 24 November

Read More

Kapten yang Gugur di Cioray

Cerita tentang kepatriotan seorang  perwira yang namanya diabadikan sebagai jalan di tiga kota SESUNGGUHNYA nama Harun Kabir bukan nama asing di Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Di kota yang saling bertetangga tersebut, sejak 1960-an namanya diabadikan menjadi nama jalan. Namun berbeda dengan di Sukabumi, dua jalan di Cianjur dan Bogor mengalami sedikit masalah. Dengan serampangan, kini pihak Pemkab Cianjur menyingkat nama Jl. Mayor Harun Kabir menjadi  Jl. MH. Kabir, sementara di Bogor, tepatnya di kawasan Cisarua, nama Jl. Kapten Harun Kabir mengalami ketidakjelasan karena sebagian pihak menginginkan nama ruas jalan yang terbujur menuju Taman Safari itu diganti menjadi Jl. Taman Safari. Siapakah sebenarnya sosok Harun Kabir? Dalam Siliwangi dari Masa ke Masa,

Read More

Historika Gelar Workshop dan Gagas Komunitas Belajar Sejarah

Dalam upaya melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan kearifan dan kekayaan nilai sejarah bangsa Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Fasilitasi Komunitas Kesejarahan Tahun 2017 memberikan Bantuan Pemerintah kepada individu maupun kelompok masyarakat di Indonesia untuk melestarikan nilai sejarah di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, bantuan ini digunakan antara lain untuk melindungi, mengembangkan dan memperkuat segala inisiatif pengembangan kesejarahan di Indonesia. Dan Yayasan Historika Indonesia menjadi salah satu komunitas yang memperoleh bantuan tersebut. Salah satu kegiatan yang Yayasan Historika Indonesia selenggarakan adalah Workshop dan Lomba Penulisan Sejarah. Acara yang diselenggarakan kemarin, 30 September 2017 berjalan sukses dan lancar. Diawali dengan tahap seleksi tulisan awal yang dikirim oleh 300 peserta, hingga

Read More