Archive

Yang Tersisa dari Rawagede 1947

Bagaimana para saksi sejarah sebuah pembantaian massal coba berdamai dengan trauma masa lalu mereka HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang nan rombeng dekat pantai, seorang perempuan uzur tertatih-tatih menyambut kedatangan saya dan dua kawan dari Historika Indonesia: Imam Rachmadi dan Abdul Basyit. Tubuhnya bergetar karena pengaruh usia. “Hati-hati Nek…” ujar saya seraya memapah tangan kanannya. “Kita bicara di depan saja, jangan di sini, gelap…” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di

Read More