Archive

Jalan Sunyi Para Petarung Tua

Di zamannya, mereka adalah manusia-manusia pemberani: tanpa mengenal pamrih, siap menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia merdeka. Kini mereka menapaki masa-masa tuanya dalam sunyi. JUMAT, 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta. Beberapa hari usai proklamasi tersebut, berbondong-bondong anak muda menyatakan diri untuk membela Republik Indonesia yang baru didirikan itu. Tekad itu semakin kuat, manakala lewat “perantara” Inggris (yang tugas utamanya mengurusi tawanan perang di Indonesia), orang-orang Belanda datang kembali dan secara sepihak mendirikan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) di Indonesia. Pendirian NICA oleh Van Mook dan kawan-kawannya, direspon secara keras oleh para pemuda Indonesia. Mereka lantas membentuk berbagai badan perjuangan dan kelompok bersenjata sebagai upaya

Read More

Malam Jahanam di Laut Arafura

Junus Rupami (78) masih mengingat awal terjadinya neraka itu. Di malam jahanam tersebut, ia menyaksikan nyala kembang api menerangi haluan KRI Macan Tutul. Para prajurit dan kelasi berteriak-teriak panik. Rupanya kembang api itu disebabkan oleh tembakan pesawat Belanda jenis Neptune yang terbang di atas mereka setinggi kira-kira 3000 kaki dari permukaan laut. Sejurus kemudian pesawat itu hilang dari pandangan. ” Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya…” kenang mantan gerilyawan sukarela Papua pro Indonesia tersebut. Belum selesai otak Junus mengira-ngira, beberapa menit kemudian tiba-tiba deru suara pesawat itu kembali meraung diatas KRI Macan Tutul. Pesawat itu lagi-lagi melontarkan bom ke arah satuan MTB. Air laut menyembur tinggi di kanan-kiri Macan

Read More