Archive

Aidit, PKI dan Agama Sebagai Candu

Benarkah orang-orang komunis itu selalu identik dengan anti agama? SEJATINYA kejadian ini sudah agak lama. Pada sekitar awal 1990-an, melalui surat pembaca di Majalah Al Muslimun, Bangil, seorang sarjana sejarah bernama Abdul Rojak “marah-marah”kepada Kuntowidjojo. Pasalnya orang yang mengaku sebagai pemerhati sejarah Islam di Indonesia tersebut tidak menerima sang budayawan menyebut “Ikhwanul Muslimun sebagai kepunyaan Partai Komunis Indonesia (PKI)” dalam buku legendarisnya: Paradigma Islam, Intepretasi untuk Aksi. “ Saya kecewa. Apa maksudnya Pak Kunto menyebut organisasi Islam terkemuka di dunia tersebut sebagai kepunyaan PKI?” tulisnya. Lama sekali surat itu tak berbalas. Entah karena Kuntowidjojo tak membaca Al Muslimun atau karena hal lain (terlebih saat itu ia diberitakan sedang sakit keras),

Read More

Seorang India di Kubu Republik

Suatu hari di akhir-akhir tahun 1945. Sebuah iring-iringan konvoi pasukan Inggris dari British Indian Army (BIA) dihadang sekelompok lasykar republik di Bogor. Para penghadang terdiri dari anak-anak muda bersenjatakan beberapa pucuk bedil usang dan parang. Namun dalam waktu cepat, para serdadu BIA yang jauh lebih berpengalaman itu justru malah balik bisa mengepung dan menjadikan anak-anak muda tersebut bertekuk lutut. Usai mengumpulkan para tawanan, salah seorang opsir mereka menyampaikan ceramah pendek di hadapan anak-anak muda itu. “ Isinya nasehat supaya anak-anak kita jangan melawan, karena katanya mereka bersimpati terhadap perjuangan kita. Dianjurkan pula oleh opsir itu agar anak-anak berlatih dahulu sebelum turun dalam suatu pertempuran sungguh-sungguh…” ungkap Jenderal (Purn) A.H Nasution

Read More

Perjumpaan dengan Sang Komandan

Kisah seorang pahlawan yang namanya tak ingin dikenang… MARET 1946. Sukabumi baru saja ditelan senja ketika Kapten Odi Dasuki (salah satu komandan kompi dari Yon II yang ada dibawah Resimen III TRI Sukabumi pimpinan Letnan Kolonel Eddie Soekardi) mengatur posisi pasukannya pada sebuah dataran tinggi yang terletak di sisi kanan jalan raya Cipelang. Sementara itu di bukit seberang jalan, Mayor Harry Soekardi dan pasukannya sudah bersiap dalam posisi tempur. Suasana tegang semakin mencekam. Beberapa menit kemudian, dari arah Bogor terdengar suara gemertak roda-roda tank Sherman. Semakin dekat suara gemuruh tersebut, semakin jelas pula terlihat ratusan serdadu Inggris dari Bataliyon Patiala (sebagian besar anggotanya berasal dari Suku Patiala di India) pimpinan

Read More

Herman O. Lantang: Soe Hok Gie Tidak Suka Pengkultusan

DI USIANYA  yang sudah melebihi angka 70, Herman Onesimus Lantang masih terlihat segar dan bersemangat. Maklum, lelaki Minahasa yang memiliki sorot mata tajam itu, hingga kini masih betah mengakrabi hobinya di masa muda: naik gunung. Bahkan bukan saja dalam aktivitas, gaya bicara opa satu ini masih meledak-ledak, cuek dan egaliter, sebuah sikap khas aktivis pecinta alam. Herman memang tidak setangkas dulu lagi. Jalannya sekarang agak pelan. Dalam sebuah pendakian beberapa waktu lalu, ia jatuh hingga menyebabkan kaki sebelah kirinya patah. “Ya beginilah gua sekarang, sementara ini kemana-mana harus pake tongkat,” kata mantan Ketua Mahasiswa Pecinta Alam UI dan bekas Ketua Senat Fakultas Sastra UI era 60-an itu. Banyak orang mengatakan,

Read More

Mereka Terbunuh untuk Uang

Pada 18 Oktober 2013, fotografer Belanda Marjolein van Pagee menyelenggarakan pameran karya-karyanya di kota Eindhoven. Dalam pembukaan pameran foto yang bertajuk Yellow Flower (Kembang Kuning tersebut, ia mendapuk Frans Goenee, mantan prajurit Korps Marinir Kerajaan Belanda untuk mengisahkan sekelumit pengalamannya selama bertugas di Surabaya pada akhir 1940-an. Marjolein lantas menuliskan kisah Goenne dan beberapa minggu lalu sempat menceritakan kisah penyampaian kata sambutan emosional Goenne itu kepada saya. Demi ilmu pengetahuan, saya kemudian meminta izin kepada Marjolein untuk menerjemahkannya dan memuatnya di Arsip Indonesia. Inilah sekelumit kisah mengharukan itu. FRANS GOENEE adalah “bintang” dalam acara pembukaan pameran foto saya di International Design Cafe, Eindhoven malam itu. Sebagai mantan marinir yang bertugas

Read More

Simpang Jalan Bahasa Sunda

Bagaimana sebuah bahasa daerah harus menghadapi dilema waktu? RADEN SUDJANA resah. Dari belasan cucunya, tak ada satu pun yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Padahal menurut menak (ningrat) Cianjur itu, bahasa Sunda merupakan bahasa induk yang harusnya dimumule (dirawat) karena itu menjadi salah satu identitas hidup suku yang berdiam di bagian barat pulau Jawa tersebut. “ Cicing di tatar Sunda, dahar jeung hirup di tatar Sunda. Nanaonan make basa Malayu atawa basa Batawi sagala?” kata lelaki berusia 78 tahun itu. Artinya tak lebih, ia mempertanyakan orang-orang Sunda yang hidup di tanah airnya mengapa harus menggunakan bahasa Indonesia (Melayu dan Betawi) sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Sudjana wajar

Read More

Mitologi atau Kenyataan?

Sebuah buku yang dituduh penuh dengan mitos TAHUN 1990-an, penyair W.S. Rendra pernah membuat sebuah puisi berjudul Demi Orang-Orang Rangkasbitung. Puisi yang ditulis di Bojonggede pada hari kelima bulan November tersebut, berkisah tentang curahan hati imajiner seorang asisten residen mengenai kondisi sosial politik saat itu di Indonesia (tahun 1990-an) yang dinilainya tidak berbeda dengan situasi Keresidenan Lebak di abad 19: penuh penindasan terhadap rakyat kecil. Sejatinya puisi Rendra yang kerap dibacakan dalam berbagai demonstrasi mahasiswa era Orde Baru tersebut terinspirasi dari Max Havelaar. Itu nama sebuah novel karya Multatuti (nama pena Eduard Douwes Dekker), yang diterbitkan pertama kali pada 1860 di negeri Belanda. Eduard sendiri merupakan mantan Asisten Residen Lebak

Read More

Jenderal Berpenampilan Jongos

PARA jenderal lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang era 60-an dan 70-an pasti sangat mengenal Brigjen. Sahirdjan. Bekas Cudanco PETA itu tercatat sebagai instruktur paling lama mengajar di akademi militer (mulai dari namanya MA hingga AKABRI). Wajar, jika (saat itu) Letnan Kolonel Sahirdjan sangat akrab dengan para kadet (taruna). Saat berlangsung Perang Kemerdekaan, para kadet mengenal Sahirdjan sebagai sosok berpenampilan sederhana, humoris dan mahir menciptakan berbagai senjata darurat. Suatu hari saat para kadet terlibat dalam pelatihan militer semesta untuk rakyat Yogya, Sahirdjan berhasil membuat sejenis “senjata mutakhir” : senjata panah yang berujung detonator, suatu kombinasi persenjataan modern dengan tradisional. Dalam ideal pemikiran Sahirdjan, selain mudah dan efektif digunakan dalam perang

Read More

Sinterklaas dari Indonesia

Haji Agus Salim dalam kenangan seorang tokoh sosialis Belanda CERITA-cerita menarik sekitar Haji Agus Salim (HAS) selalu bagai aliran sungai: seolah tak jua berakhir. Ketika bertemu dengan salah seorang putrinya Oma Bibsy Soenharjo (Siti Asia) banyak hal yang diceritakan oleh beliau yang membuat saya secara pribadi semakin kagum kepada sosok lelaki yang dijuluki Bung Karno sebagai The Grand Old Man tersebut. Oma Bibsy berkisah kendati sebagian besar putra dan putri HAS tidak pernah mengeyam bangku sekolah formal, namun itu tidak menjadikan mereka menjadi bocah-bocah kuper. Bahkan sebaliknya, di bawah didikan langsung sang ayah mereka justru tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpengetahuan terutama dalam penguasaan bahasa asing. Lantas mengapa itu

Read More

Sniper dari Tjisarandi

Sang Penembak Runduk itu dengan tabah dan gagah menghadapi maut yang akan mengambilnya… LELAKI sepuh itu menatap dengan haru selembar foto tua yang ada di tangannya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Ia kemudian menyorongkan foto tersebut kepada saya dalam gerak perlahan. “ Ini satu-satunya peninggalan bapak yang saya miliki. Selain ini, semuanya sudah musnah dibakar tentara Belanda puluhan tahun lalu,” katanya dalam nada sedih. Mahkun Cipta Subagyo (70), nama lelaki sepuh tersebut, adalah salah satu putra Asmin Soetjipta alias A. Sucipta, pahlawan Cianjur yang namanya sudah terlupakan. Begitu terlupakannya, hingga Pemkab Cianjur sendiri secara salah kaprah mengidentikan namanya dengan Komodor Adisoetjipto (pionir TNI Angkatan Udara) saat memberi nama sebuah ruas jalan

Read More