Archive

Geger 1965 Rasa Hollywood

Sebuah film tentang Indonesia dan sisi-sisi gelapnya di tahun 1965. SAYA ingat, suatu berita menarik dari sebuah surat kabar yang saya baca ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (1985-an). Seorang produser dari Hollywood (saya lupa namanya) berminat mengangkat hidup Sukarno (proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia) ke layar lebar. Entah bagaimana kelanjutan rencana tersebut? Yang jelas hingga kini, hanya beberapa film Hollywood yang menampilkan Bung Karno. Itu pun sebatas tokoh pelengkap saja. Salah satu film Hollywood yang sempat menampilkan Bung Karno sebagai tokoh figuran adalah The Year of Living Dangerosly (TYOLD). Di film yang diangkat dari novel Christopher J.Koch itu, Bung Karno (diperankan oleh aktor Filipina, Mike Emperio) sempat ditampilkan

Read More

Revolusi di Ladang Sayur

Kisah sekelompok petani miskin Pangalengan yang bergerak menguasai tanah negara atas nama land reform. GELAP menelan Pangalengan saat udara dingin menembus bilik-bilik bambu sebuah rumah sangat sederhana di kawasan Loskulalet, Desa Margamekar. Di atas lantai kayu putih beralas karpet rombeng berwarna hijau, puluhan orang duduk bersila. Sebagian adalah lelaki separuh baya dan sebagian lagi terdiri dari anak-anak muda dan perempuan. “Mereka adalah para petani yang merupakan perwakilan ranting-ranting AGRA anak cabang Pangalengan,”kata Erpan Faryadi,salah satu Pengurus Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), kepada saya. AGRA adalah salah satu dari 5 organisasi massa petani Indonesia di luar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang dinilai pro pemerintah. Bersama Serikat Petani Indonesia (SPI),

Read More

“Kami Datang Sebagai Teman”

Pergulatan batin seorang serdadu Belanda yang berujung delapan tahun penjara   HARI KE-14 BULAN JUNI 1947, baru saja berjalan sekitar satu jam ketika gerimis semakin gencar menombaki kawasan hutan sekitar Nyalindung di Sumedang. Angin  berdesir resah, meningkahi lambaian dedaunan yang bersanding dengan suara gemerisik pohon-pohon bambu. Di jalan setapak  nan licin, Piet Van Staveren tercekat sesaat. Ada rasa gentar yang singgah sekejap di hati serdadu Belanda itu saat siulan seekor burung hantu mencegatnya secara tiba-tiba. Namun ia cepat-cepat menafikan rasa itu. Bagi  Piet, kecemasan akan kejaran kawan-kawannya sesama tentara Belanda lebih besar dibandingkan dengan bayangan hantu-hantu penghuni hutan Nyalindung. Setelah berjam-jam lamanya berusaha menembus gelapnya malam, menjelang pagi, Piet tiba

Read More

Jimat dalam Perjuangan

Dari ajian halimunan hingga kuburan kucing. SUATU MALAM yang gelap 67 tahun yang lalu. Angin berdesir resah menyapu kawasan Curug Supit, di Cihurang, Cianjur. Di tengah deru suara air terjun, suara ajag (anjing hutan) saling bersahutan dengan bunyi-bunyi binatang hutan lainnya, membentuk gelombang mistis yang memenuhi lembah dingin tersebut. Masih segar dalam ingatan Atjep Abidin (90), dalam kondisi setengah telanjang, saat itu ia bersimpuh di sebuah batu besar dekat air terjun. Sementara itu di sisinya, sang guru yang bernama Bisri tengah komat-kamit, merapalinya dengan jangjawokan (mantera yang dirapal dengan memakai bahasa sunda lama). Sesekali lelaki yang dikenal sebagai jawara di wilayah Takokak itu menyiraminya dengan air bunga tujuh rupa. “

Read More

Persahabatan dari Kebon Djati

Bagaimana 2 sahabat lama harus bertemu sebagai musuh dalam perang? HARI_HARI ini, saya lagi “menggilai” film-film alternatif. Film-film bagus yang sebagian besar bukan made in Hollywood itu, dalam kenyataannya memang agak susah dicari. Untuk mendapatkannya, saya harus banyak “bergerilya” ke lapak-lapak penjualan VCD atau DVD  di Jakarta dan Bandung. Atau jika mentok, ya terpaksa saya harus titip kepada kawan-kawan yang ada di negeri-negeri seberang sana. Oeroeg adalah salah satu film karya para sineas Belanda yang tengah saya incar. Bagi saya, ini film menarik dan laik ditonton. Mengapa? Berbeda dengan film-film tentang Perang Kemerdekaan Indonesia pada umumnya, Oeroeg tidak jatuh dalam jebakan propaganda. Alih-alih subyektif, film ini malah mencoba untuk masuk

Read More

Hikayat Desa di Kaki Gunung Gede

Bermula dari sebuah lahan tempat pengungsian. Berkembang menjadi salah satu sentra produksi beras lokal terbesar di Jawa Barat. MAKAM tua itu membisu seribu basa dimakan zaman. Di atasnya, kumpulan batu kali sebesar kepala bayi itu tertumpuk rapi, membentuk ruas persegi panjang 1X1,5 meter persegi. Dari sela-sela bagian batu di bagian tengah, muncul sebatang pohon mawar merah berduri, seolah berfungsi sebagai penghias sekaligus pelindung makam tersebut dari sengatan terik matahari. “Ini makam Hajah Maing Khodijah, pendiri sekaligus pemimpin pertama desa kami,”ungkap Ahmad Nasai (60), salah satu sesepuh di Gasol. Itu sebuah nama desa yang terletak di kawasan kaki Gunung Gede dan masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sejak zaman baheula,

Read More

Gejolak Revolusi di Selatan Jakarta

Revolusi bukan hanya menjatuhkan banyak korban tapi juga mengangkat para garong sebagai raja lokal. JEANETTE Tholense mengenangnya sebagai peristiwa kelam dalam hidupnya. Suatu siang Oktober 1945, segerombolan pemuda bersenjata menggeruduk rumah orangtuanya di Kerkstraat (kini Jalan Pemuda), Depok. Selain merampok, para pemuda prokemerdekaan itu membunuh salah seorang saudaranya, Hendrick Tholense. Merasa tak aman lagi, Jeanette dan keluarganya mengungsi ke rumah saudara di Jalan Bungur. Alih-alih terlindungi, mereka malah menjadi tawanan para pemuda. “Semua disuruh buka baju. Yang lelaki tinggal pakai celana kolor dan yang perempuan tinggal pakaian dalam saja. Kami digiring ke Stasiun Depok Lama,” ujar perempuan kelahiran Bandung, hampir 80 tahun lalu. Kisah pilu Jeanette merupakan salah satu serpihan

Read More

Prof.Aiko Kurasawa (2): Jepang Berubah Setelah Sukarno Hina AS

Wawancara bagian ke-2 arsipindonesia.com dengan Prof. Aiko Kurasawa, indonesianis asal negeri sakura PASCA berakhirnya Perang Dunia ke-2, hubungan Indonesia-Jepang bisa dikatakan sempat mengalami kevakuman. Kontak mulai kembali dilakukan pada 1951, saat dunia bisnis Jepang mulai membicarakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangkan industri Indonesia dan guna mengimpor sejumlah komoditi kekayaan alam Indonesia yang diperlukan Jepang untuk pembangunan negaranya pasca perang. Pembicaraan resmi pertama antara kedua negara terjadi Tokyo pada Desember 1951 terkait pampasan perang. Perundingan tersebut berlangsung alot hingga 6 tahun kemudian kedua pihak menyepakati jumlah 223,08 juta dollar AS sebagai kompensasi. “ Pampasan perang itu dibayarkan selama periode 12 tahun dalam bentuk barang modal dan jasa…”tulis Masashi Nishihara dalam The

Read More

TENTARA WANITA BELANDA DI INDONESIA

MASIH  ingat Oeroeg? Film Belanda  yang disutradarai oleh Hans Hylkema dan dibuat pada 1993 begitu melekat  di pikiran saya hingga kini. Selain alur ceritanya yang sederhana, Oeroeg juga  menampilkan bagaimana para insan film  “walanda”  itu secara ciamik  dan teliti menampilkan detail-detail masa lalu nyaris  sempurna. Mulai penampilan orang-orang era kolonial hingga seragam militer Belanda dan Indonesia di era Perang Kemerdekaan. Di film ini ada juga diceriatakan sedikit mengenai  tokoh  perempuan Indo (?) bernama Rita. Ia merupakan tenaga bantuan medis  tentara Belanda yang diam-diam berpihak kepada  para gerilyawan republik dari Divisi Siliwangi. Cara Rita ikut andil dalam perjuangan tentunya dengan menyelundupkan sejumlah morvin ke dalam buah semangka yang lantas dibawa oleh

Read More

Petualangan Empat Serdadu

Sebuah novel antropologis  yang kaya akan detail-detail Borneo di tahun 1800-an. TAHUN 1860. Kalimantan sebagian besar masih merupakan rimba raya. Binatang liar berkeliaran. Ratusan suku dari etnis Dayak bertebaran, hidup berdampingan dengan tradisi budaya mengayau (penggal kepala). Di tengah situasi itu, Belanda coba merambah tanah Kalimantan. Mengerahkan ribuan serdadu lengkap dengan jutaan peralatan perang dan peluru. Tujuannya, tentu saja hanya satu: menaklukan tanah yang kaya akan emas dan rotan itu. Schlickeisen, Wienersdorf, La Cuelle dan Yohanes adalah bagian dari ribuan serdadu itu. Mereka tergabung dalam sebuah bataliyon yang ditempatkan di sebuah kawasan liar bernama Kuala Kapuas. Pada awalnya mereka dijanjikan gaji tinggi dan jaminan hidup senang oleh pemerintah Belanda. Tapi

Read More