Archive

Politik Mesum di Era Orla

Campurtangan seks dalam politik dan ekonomi di zaman  Orde Lama RIBUT-RIBUT soal gratifikasi seks dan skandal mesum yang  pernah disangkakan kepada sejumlah elit partai politik hari ini, saya jadi ingat sebuah kisah yang dituliskan Soe Hok Gie dalam surat kabar Indonesia Raya pada akhir tahun 1960-an. Ceritanya, pada suatu hari saat mengunjungi Amerika Serikat (AS) ia bertemu sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di sana. Usai berdiskusi mengenai situasi-situasi politik tanah air pasca G30S, tiba-tiba salah seorang dari mereka nyeletuk kepada aktivis 66 yang memiliki pola piker idealis tersebut: “Soe, kamu mau naik “kuda putih”? Ditanya demikian Soe kaget dan balik bertanya, “Maksudnya? Apa itu “kuda putih”? Alih-alih segera

Read More

Obat Amnesia Saksi Denmark

“ Mungkin kita terlibat dalam peristiwa itu. Saya sudah lupa…” (William Colby, Direktur CIA divisi Asia 1962-1967) LEMBARAN  kertas tua itu memiliki fungsi ganda di zamannya. Tidak hanya sekadar kartu masuk untuk mendarat bagi pelaut asing (shorepass), namun juga menjadikan Kasper sebagai salah seorang saksi perkelahian politik penuh darah di sebuah surga bernama Indonesia.Siapakah Kasper?Dia tak lain adalah alter ego-nya Peer Holm Jorgensen, nama pelaut Denmark yang pernah singgah beberapa minggu di Pelabuhan Tanjung Priok dan Palembang. Dengan mengunakan kapal dagang bernama Clementine, menjelang akhir September 1965, Kasper tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan memutuskan untuk kerja di kapal dagang lain DGM Jessie sebagai seorang koki.Sambil menunggu Jessie menarik jangkar,

Read More

Hikayat Hidoeng Belang

Sebuah skandal di abad  ke-17  yang meninggalkan jejak mendalam pada bahasa kita hari ini BEBERAPA  waktu yang lalu, Jakarta pernah digocang oleh peristiwa penemuan mayat terpotong-potong dalam sebuah bus kota. Praktek mutilasi yang tak masuk akal secara kejiwaan ini ternyata dilakukan oleh seorang perempuan kepada suaminya sendiri. Perempuan itu mengaku  jengkel dan cemburu dengan ulah sang suami yang katanya seorang hidung belang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah hidung belang merujuk kepada para lelaki yang memiliki prilaku suka mengganggu perempuan. Biasanya jenis lelaki seperti ini tak lepas dari hubungan perkelaminan (seks) atau istilah anak muda sekarang: penjahat kelamin. Entah sudah berapa ratus juta kali,  kata itu disebut orang-orang kita dari dahulu

Read More

Kisah dari Front Barat

Bagaimana sekelompok anak muda lintas etnis dan agama di wilayah Kebumen, bahu membahu dalam suatu pertempuran berdarah dengan militer Belanda. BATAS DESA SIDOBUNDER DI PENGHUJUNG AGUSTUS 1947. Langit pekat menggantung di atas bumi. Sang Surya, perlahan beranjak ke peraduannya, meninggalkan rona merah di sela-sela  awan hitam, menabalkan kesuraman yang menggetarkan hati para anak muda bersenjata yang tengah jalan beriringan menapaki jalan desa. Mereka para prajurit remaja dari Seksi 321 Kompi 320 Batalyon  300 Tentara Pelajar dibawah pimpinan Komandan Anggoro. Begitu memasuki Desa Sidobunder (masuk dalam wilayah Front Barat: Kebumen, Gombong, Banyumas,Purwokerto), Anggoro langsung melapor kedatangan pasukan kecilnya ke para penguasa setempat: seorang Letnan TRI (Tentara Republik Indonesia) bernama Letnan Achmad

Read More

Soeharto Pernah Digampar?

Sebuah peristiwa yang tak  pernah benar-benar terkuak. SAAT berumur 16 tahun, saya pernah berteman dengan seorang mantan aktivis  mahasiswa 1978. Suatu senja, ia membongkar dokumen-dokumen tua, sisa-sisa pemberontakan gagalnya kepada Soeharto. Salah satu dokumen  lantas ia berikan kepada saya. Judulnya: Manifesto Mahasiswa ITB atas Kekuasaan Soeharto. Saya baca dengan rakus, berbagai informasi langka dari kertas-kertas yang sudah berwarna kuning itu. Salah satu hal  yang membuat saya tertarik adalah tentang suatu kejadian  di tahun 1950, saat Soeharto digampar oleh Kolonel Alex Kawilarang. Pasalnya, sesepuh Siliwangi itu tak suka melihat kelakuan pasukan Soeharto yang alih-alih bertempur dengan prajurit-prajurit KNIL Andi Azis, malah merampoki harta orang-orang Bugis. Bertahun-tahun kemudian saya pernah mengomfirmasi soal ini

Read More

Karto, Sang Imam

“Saya hanya ingin bertemu Sang Pencipta untuk mengetahui apakah kebijakan yang selama ini saya lakukan benar atau salah.” (Sekar Maridjan Kartosoewijo, 1962) API  itu memang sudah tersulut sejak lama. Saat itu sekitar tahun 1920-an, di Surabaya, di sebuah gang sempit bernama Paneleh, dua orang muda kerap beradu kata soal seperti apa kelak bentuk sistem yang cocok untuk sebuah Hindia yang merdeka. Kartosoewirjo bersikukuh bahwa Hindia akan menemui kegemilangannya saat semua sendi-sendi politik yang pernah diberlakukan Muhammad di Medinah juga diterapkan di negeri tropis ini. Sebaliknya Sukarno, anak muda yang 6 tahun lebih tua dari Karto,punya pandangan berbeda. “Aku bergerak dengan landasan kebangsaan…”ucap Sukarno seperti dilnasir oleh Cindy Adams dalam Bung

Read More

“Kapal Perang ini, Kami Ambil Alih!”

Delapanpuluh satu tahun yang lalu, De Zeven Provincien dibajak oleh ratusan awaknya yang terdiri dari kelasi pribumi, kelasi  Indo dan kelasi Belanda. Bagaimana revolusi  bisa terjadi di salah satu kapal perang terbesar milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda itu? Inilah kisahnya. AGIH SUBAKTI (68) bercerita dalam nada bangga. Sambil menyebut sebuah nama, ia mengisahkan tentang sebuah perlawanan lama. Ya, lebih kurang 81 tahun lalu, sang ayah yang bernama R. Saleh Basari Wangsadiredja adalah salah satu dari ratusan marinir yang terkait dalam  pemberontakan di atas Kapal De Zeven Provincien (Kapal Tujuh). Itu adalah nama sebuah kapal perang legendaris milik Koninklijke Marine (KM) atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Namun kebanggaan itu seolah bertepuk

Read More

Propaganda Saudara Tua

Kisah  tentara Jepang yang membelot dan berpihak kepada perjuangan Indonesia.Menarik, namun terasa lebay di sana-sini. BEBERAPA tahun yang lalu, saat melakukan sebuah riset di daerah Kedu,Jawa Tengah, saya sempat mendengar cerita menarik sekitar Perang Kemerdekaan dari seorang veteran pejuang setempat. Katanya, dulu ada satu regu eks tentara Jepang yang membelot dan bergabung dalam batalyon TNI pimpinan  Achmad Yani (yang kelak menjadi salah satu korban Gerakan 30 September 1965). Mereka dikenal sangat berani dan ditakuti oleh serdadu Belanda. Saya yakin, cerita itu bukan hanya isapan jempol belaka. Menurut  Hayashi Eiichi, selama 1945-1949 kurang lebih 1000 serdadu Jepang memilih tinggal dan bahu membahu bersama pejuang Indonesia melawan Belanda. “Di Jepang, mereka dikenal

Read More

Prof.Aiko Kurasawa: Orang-orang Jepang Dukung Kemerdekaan Indonesia

Paparan menarik mengenai peran Jepang di Indonesia (1910-1967) dari seorang indonesianis asal negeri matahari terbit tersebut KENDATI lahir dan tumbuh sebagai orang Jepang, Aiko Kurasawa (67) berpendapat bahwa apa yang pernah dilakukan oleh bala tentara Jepang pada 1942-1945  tetap namanya sebagai suatu kejahatan kemanusiaan. Alih-alih mencari pembenaran atas luka sejarah yang pernah ditimbulkan oleh negaranya kepada sesama bangsa Asia (termasuk Indonesia), ia justru menyayangkan hingga kini tak ada ketegasan dari pemerintah Jepang terkait  soal tersebut. “Permintaan maaf memang pernah ada, tapi selalu tak jelas. Artinya ketika itu dinyatakan oleh satu pemerintahan di Jepang, maka kekuasaan berikutnya yang dipegang oleh partai yang berbeda  selalu akan menganulirnya. Ini kan namanya abu-abu, sangat

Read More

Kematian Jenderal yang Diasingkan

Loyalis Presiden Sukarno itu tewas dalam kondisi kepala tertembus peluru. MALAM SEMAKIN LARUT di kawasan Jalan Prof.Dr.Soepomo, Jakarta. Jarum jam hampir menujukan angka sebelas, saat Atit melangkah menuju ruang kerja sang paman: Letnan Jenderal KKo AL(Korps Komando Angkatan Laut) Hartono. Maksud hati ingin berpamitan  untuk pulang ke rumahnya di Tanjung Priuk, namun apa daya   belum sempat meraih gagang pintu, gadis kecil belasan tahun yang masih duduk di bangku SMP itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara tangan menggebrak meja, disusul oleh bentakan keras sang paman: “Saya hanya takut kepada Saptamarga!” Saptamarga adalah tujuh pasal yang harus dipatuhi oleh para prajurit TNI (Tentara Nasional Indonesia). Dalam setiap upacara militer, pasal-pasal itu kerap

Read More