Archive

HELICAK, PERPADUAN HELIKOPTER & BECAK

HELICAK…HELICAK ..ONGKOSNYA BERAPA? Lirik lagu dari Ira Maya Sopha itu sangat akrab di teling saat saya bocah dulu. Kalau disuruh nyanyi sama om-om dan tante-tante, pasti saya bawakan lagu tersebut. Anehnya, saya sendiri tidak memiliki bayangan seperti apa “mahluk” itu. Maklum saya tinggal di udik, hanya berteman katak dan burung-burung sawah. Menurut hikayat para urban, helicak merupakan gabungan kata dari “helikopter” dan “becak”. Dijuluki demikian karena sekilas bentuknya memang mirip kedua moda transportasi tersebut. Pertama kali diluncurkan di pada Maret 1971, oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Helicak diharapkan bisa menggantikan fungsi becak yang dianggap “tidak manusiawi”. Bentuk kendaraan ini laiknya becak: penumpang duduk di dalam kabin dengan kerangka besi

Read More

CINTA TAK SAMPAI TAN MALAKA

SINGAPURA 1938. Suatu hari, Matu Mona (nama pena Hasbullah Parindurie) diundang oleh seseorang yang mengaku sebagai penjahit asal Sumatera Barat. Begitu memasuki toko kecil di sudut kota Singapura tersebut, tahulah ia bahwa sang penjahit itu ternyata Tan Malaka, buron politik Hindia Belanda yang tengah dicari-cari para agen intelejen negara-negara Barat. Tan yang kala itu dilukiskan Matu sebagai sosok yang mirip tauke Tionghoa (karena ia berpenampilan seperti orang Tionghoa) sengaja ingin bertemu dengan orang yang menulis Patjar Merah Indonesia (Spionnage-Dienst). Pertemuan itu sendiri tidak berlangsung lama. Dengan pertimbangan keamanan, Tan hanya menyediakan waktu 5 menit untuk ngobrol-ngobrol dengan Matu Mona. “Dia sama sekali menolak untuk diwawancara,”ujar Matu yang juga seorang jurnalis

Read More

TNI Bule

Kisah seorang serdadu muda Belanda yang mengikuti kata hatinya dan bergabung dengan para gerilyawan Siliwangi untuk memerangi bangsanya. JAKARTA, 20 November 1995. Rumah Makan Mirasari di kawasan Kemang dipenuhi ratusan manusia  malam itu. Udara agak lembab. Mendung bergayut. Sementara sebagian bintang terlihat berkelip malu-malu, ditingkahi embusan angin yang menjadikan barisan panji iklan rokok di jalanan menari-nari. Di satu sudut ruangan, seorang lelaki bule dan berkursi roda duduk dengan tenang.Bibirnya tersenyum, membalas setiap sapaan dan ucapan selamat ulang tahun (yangke-70) dari orang-orang kepadanya. Saya dan beberapa kawan dari PIJAR Indonesia termasuk yang antri untuk menyalaminya. PIJAR adalah kependekan dari Pusat Informasi Jaringan Aksi untuk Reformasi. Itu adalah sebuah nama organ semi

Read More

Horor di Takokak (4): Nisan-Nisan Tak Bernama

“ …Kami cuma tulang-tulang berserakan…Tapi adalah kepunyaanmu…” (Chairil Anwar, Pujangga Angkatan 45) SEBUAH pesan elektronik meluncur ke inboks email saya malam itu. Isinya pernyataan seorang kawan dari Belanda yang menyatakan ketertarikannya atas tulisan saya tentang Insiden Takokak di situs www.dutchwarcrimes.com. “ Selama riset tentang kejahatan perang Belanda di Indonesia, saya baru mengetahui ada praktek kejahatan perang Belanda juga di sana,”ujarnya. Saya maklum atas ketidaktahuan kawan saya tersebut. Jangankan dia yang rumahnya ribuan mil dari Takokak, orang-orang Takokak sendiri sekarang sama sekali buta akan peristiwa penting bersejarah yang pernah terjadi di daerahnya itu. Itu terbukti saat suatu hari pernah seorang anak muda Takokak yang bekerja di Jakarta, mengaku kaget saat saya

Read More

Horor di Takokak (3): Perburuan Kaum Republik

Militer Belanda secara membabi buta menangkap dan membunuh siapa saja yang mereka anggap sebagai gerilyawan. SIAPAKAH sebenarnya orang-orang sipil yang dibantai oleh militer Belanda di Takokak itu? Hingga saya membuat tulisan ini, belum ada kejelasan soal itu. Namun dari keterangan Yusup, disebutkan mereka adalah orang-orang yang dicurigai sebagai simpatisan republiken dan menjadi target operasi pembersihan pasca “enyahnya” Siliwangi dari Jawa Barat. Rata-rata  mereka diambil militer Belanda dari wilayah sekitar Sukabumi dan Cianjur. “Memang bisa jadi yang ditembak itu adalah kaum republiken beneran, tapi tak sedikit pula dari mereka merupakan korban fitnah semata,”ujar mantan petarung republik yang di hari-hari tuanya pernah menjadi kuli panggul tersebut. Diberi Cincin oleh Tawanan Beberapa bulan

Read More

Horor di Takokak (2): Kisah dari Ladang Pembantaian

Bagaimana seorang mata-mata republik menjadi saksi proses pembunuhan massal oleh militer Belanda? BEBERAPA hari sebelum rombongan prajurit Siliwangi dari Cianjur datang ke Takokak… Siang baru saja menyeruak, saat Andin Soebandi tiba di Pabrik Teh Bunga Melur, tempat para petugas OW di Takokak membuat pos penjagaan. Sebagai mata-mata gerilyawan republik, lelaki yang saat itu masih berumur 10 tahun itu tengah menunaikan tugasnya dengan berperan sebagai penjaja buras (sejenis lontong yang diisi oncom) dan goreng-gorengan. Andin bukan mata-mata resmi dari sebuah kesatuan gerilyawan republik. Ia melakukan pekerjaan beresiko berat itu semata-mata kebenciannya kepada tentara Belanda yang ia nilai selalu berlaku kejam kepada para penduduk Takokak. Lantas kepada siapa ia melaporkan hasil aksinya?

Read More

Horor di Takokak (1): Kesaksian Seorang Prajurit Siliwangi

Mereka tewas dengan sebuah lubang peluru di tengkuk… YUSUP SUPARDI terdiam sejenak. Kepalanya yang dipenuhi salju waktu agak tefekur, membuat matanya seolah ingin menembus tembok lantai. Ia menghela nafas panjang, tersenyum tipis dan berusaha kembali menguasai keadaan.  “ Maaf, saya selalu merasa sedih jika mengingat lagi peristiwa itu,” ujar lelaki kelahiran Sukabumi, 90 tahun yang lalu tersebut seraya mengangkat kepalanya lagi. Tahun 1948, Yusup adalah seorang prajurit muda dari Bataliyon Kala Hitam Divisi Siliwangi. Berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya yang dikirim untuk berhijrah ke Yogyakarta akibat pemberlakuan Perjanjian Renville saat itu, ia justru ditugaskan untuk tetap bertahan di wilayah Sukabumi dan Cianjur. “ Tentu saja kami bergerak bukan atas nama

Read More

FOTO KADET MA MENGAWAL PANGLIMA BESAR DI DEPAN HOTEL SHUTERAAF JAKARTA

PADA  akhir Oktober 1946, proses perundingan Indonesia-Belanda yang dimulai sejak 14 Oktober 1946 di Konsulat Jenderal Inggris, Jakarta, sudah mendekati tahap akhir. Kesepakatan itu termasuk soal gencatan senjata yang akan diberlakukan kedua pihak. Untuk membicarakan soal itu dengan pihak Belanda, Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Kepala Staf Letjen.Oerip Soemoehardjo harus bertolak ke Jakarta. Masalah muncul, pasukan mana yang akan mengawal kedua pejabat tinggi militer Republik tersebut? Markas Besar Tentara kemudian menentukan beberapa kesatuan untuk mengawal keduanya hingga pulang lagi ke Yogyakarta. Salah satunya dipilihlah 15 kadet dari Akademi Militer Yogya (biasa disebut sebagai Kesatuan MA) . Terpilihnya kadet MA selain karena pasukan ini memiliki disiplin yang baik juga karena mereka

Read More

MOMEN TERAKHIR 2 PRAJURIT SILIWANGI

SENIN, 23 JANUARI 1950, Bandung baru saja memasuki pagi ketika hampir satu batalion (500-800 prajurit) tentara gabungan KNIL-KL bersenjata lengkap merangsek ke sudut2 strategis kota. Mereka yang menamakan diri sebagai APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) ini langsung stelling (membentuk posisi tempur) dan menyergap beberapa TNI yang tengah bersiap-siap berangkat menuju markasnya masing-masing. Sambil melepaskan tembakan ke atas, mereka pun meneror penduduk sipil. Akibatnya banyak toko dan rumah yang baru buka langsung ditutup kembali. Bandung pun berubah laiknya kota hantu. Di jalan perapatan Banceui yang terletak di pusat kota, seorang prajurit TNI yang tengah mengendarai jip wilys dihentikan, disuruh turun lalu kepalanya ditembak. Sekitar Jalan Braga, tepat di muka Apotheek Rathkam mereka

Read More

Kidung Sunyi Kampung Proklamasi

Rengasdengklok nyaris dilupakan orang. Padahal dari kampung di tepi Kali Citarum itu, awal perjalanan bangsa Indonesia dimulai.Kini alih-alih tersejahterakan, kemiskinan justru menjadi ciri sebagian besar warganya. DI RENGASDENGKLOK, kesehjateraan berjalan tertatih-tatih. Lihat saja jalan utama di kecamatan itu, seluruhnya dipenuhi lubang menganga. Tengok juga kanan kiri sepanjang jalan, rumah-rumah bergaya sangat sederhana berderet dalam barisan tak beraturan. Sebagian malah masih ada yang menggunakan sirap sebagai pengganti genting. ” Kemiskinan memang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun di sini,”kata Sukendar (45), warga Desa Rengasdengklok Selatan, Kabupaten Karawang. Sukendar tidak sedang berseloroh. Dari sekitar 500 keluarga yang bermukim di sana bisa jadi hanya nol koma sekian persen yang bisa disebut tidak miskin. Itu wajar

Read More