Archive

Terbunuh di Barat Jawa

Kisah kematian seorang jurnalis dan seorang profesor asal Amerika Serikat yang terselubung misteri hingga kini PERBATASAN SUMEDANG-CIREBON, 29 April 1950. Dua mayat warga ekspatriat itu teronggok begitu saja masing-masing di atas brancard. Beralaskan tikar pandan sederhana, tubuh-tubuh yang terbujur kaku tersebut ada dalam kondisi menggenaskan: dipenuhi tanah, darah kering serta luka menganga masing-masing di bagian kepala dan dada akibat tembusan dua peluru. “…Mereka terbunuh karena tembakan dari jarak dekat…” demikian tulis The Day (sebuah koran Inggris) dalam suatu laporannya pada Senin, 1 Mei 1950.  Siapa mereka? Pihak Corps Polisi Militer Djawa (CPMD) melansir mereka sebagai warga negara Amerika Serikat (AS). Yang paling tua bernama Raymond Kennedy (43), professor antropologi dari

Read More

Awal Pengabdian Orang Tionghoa

Kisah di balik pembangunan Masjid Agung Sumedang SRI SULASTRI mengeluarkan sebuah buku bacaan dari tasnya. Hari mulai merayap menuju senja, saat siswa Madrasah Aliah Negeri (MAN) Sumedang tersebut memutuskan untuk tenggelam dalam buku yang dibacanya itu. Baru beberapa lembar ia selesaikan, dari arah pintu gerbang masjid tiba-tiba beberapa remaja putri berjibab putih mendekatinya. Mereka berjingkat. Maksud hati ingin mencandai Sri dengan mengangetkannya namun Sri terlanjur memergokinya. Mereka lantas larut dalam pembicaraan yang ceria dan heboh, laiknya remaja putri. Sejak duduk di bangku SMP, Sri dan kawan-kawannya sudah rajin mengunjungi Masjid Agung Sumedang sepulang sekolah. Selain untuk sholat dzuhur atau sholat ashar, mereka pun kerap menjadikan teras masjid sebagai tempat belajar

Read More

Semalam di Tjiandjoer

Kisah sebuah kota tua dengan segala pernak-perniknya dari masa ke masa GELAP sebentar lagi enyah dari Cianjur. Pertigaan antara Jalan Soeroso dan Jalan Taifur Yusuf, mulai dipenuhi lalu lalang kendaraan dan manusia. Mereka sebagain besar adalah orang-orang yang akan berbelanja keperluan sehari-hari di Pasar Induk, sebuah sentra perbelanjaan tradisional terbesar di Cianjur yang  terletak di seberang Jalan Soeroso. Sementara itu, suara orang mengaji masih bersipongan dari menara Masjid Agung. Lantunannya yang khas mengingatkan saya pada Kiyai Haji Nanang Kosim, seorang pembaca Al Qur’an ternama era 80-an. Saya bangkit dari bangku usang sebuah warung kopi yang ada di seberang bekas kantor Polres Cianjur. Usai menghabiskan cairan hitam yang tinggal separoh di

Read More

Ki Amok di Barat Jawa

Pernah menjadi salah satu kota pelabuhan kerajaan Islam termoderen di dunia.Dipuji Tome Pires, diincar Belanda.Kini Banten hanya meninggalkan sisa-sisa kejayaan lama. SENJA memerah di kawasan Banten Lama. Tubagus Nuruddin Zein (64) termenung di atas tumpukan batu karang, sisa-sisa reruntuhan sebuah benteng tua. Sambil sesekali menghisap rokok, dia menatap sayu pemandangan lepas di hadapannya: Benteng Surosowan dan menara Masjid Agung Banten. Selarik cahaya pijar merah menerpa wajah tuanya,saat dia bergumam perlahan: “Dulu,tanah ini pernah sangat dihormati dunia,”ujar lelaki yang mengaku masih memiliki garis keturunan langsung dari Maulana Hasanuddin, pendiri Kerajaan Banten itu. Zein tidak sedang mengingat kenangan kosong. Tome Pires,seorang raja kelana asal Portugis menyebut Banten sudah dikenal sebagai salah satu

Read More

Omong Kosong 350 Tahun

Berhentilah berkata bangsa ini pernah dijajah Belanda selama ratusan tahun! BEBERAPA waktu lalu, saya mengikuti sholat jumat di sebuah masjid dekat Kampus UI. Dalam khotbahnya, beberapa kali sang khatib menyebut bahwa salah satu penyebab umat Islam Indonesia terpuruk adalah karena kita masih belum bisa keluar dari bayang-bayang penjajah yang sudah menguasai bangsa ini selama 350 tahun. Disebut angka itu, tiba-tiba ingatan saya berkunjung ke tahun 1985. Saat itu, saya duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, ketika mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) pertama kali diluncurkan oleh Pemerintah Orde Baru. Di era itulah saya sering sekali mendengar ungkapan para guru bahwa penjajahan di Indonesia berlangsung selama 350 tahun. Hah 350

Read More

Jejak Serdadu Jerman di Kaki Pangrango

Sebuah peringatan dari kesia-siaan perang dan keterpisahan manusia dari tanah airnya tercinta. SEPULUH makam bernisan Eisernes Kreuz (simbol salib baja khas bangsa Jerman) warna putih itu berderet rapi. Di atasnya, helaian daun cemara terserak, bersanding dengan beberapa kuntum bunga kemboja yang terjatuh dari pohonnya. Sekitar kawasan pemakaman yang luasnya kira 250 meter persegi itu, 3 pohon karet munding raksasa berdiri tegak, seolah menjadi saksi bisu sejarah  keberadaan makam orang-orang asing tersebut di  Arca Domas. Arca Domas (dari bahasa Sansekerta yang artinya 800 arca) adalah sebuah kampung yang masuk dalam wilayah Desa Sukaresmi,Kecamatan Megamendung,Kabupaten Bogor. Nama itu mengacu kepada sekumpulan arca kuno yang pernah ada di kawasan itu. Konon, arca-arca itu

Read More

Simpang Jalan Negara Pasundan

Ujung takdir sebuah negara boneka yang dipimpin seorang korup. SEKITAR tahun 1920-an, Prof. C.C. Berg membawa kembali naskah Kidung Sundayana ke Indonesia. Ilmuwan Universitas Leiden yang dicurigai alat politik Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu, menyebut bahwa naskah yang bercerita tentang palagan Bubat tersebut menjadi dasar shahih ketidakcocokan antara dua suku terbesar di Hindia Belanda: Sunda dan Jawa. Tak dinyana, puluhan tahun kemudian pernyataan Berg itu menjadi dalih Residen Priangan, M. Klaassen untuk memprovokasi berdirinya Negara Pasundan. Dalam laporan yang ditulis pada 27 Desember 1946 tersebut, M. Klaassen menyebut bahwa pemerintah Kerajaan Belanda wajib hukumnya mendukung PRP pimpinan eks Bupati Garut Raden Soeria Kartalegawa (Partai Rakjat Pasoendan) yang bercita-cita mendirikan Negara

Read More

Riwayat Taksi Tempo Doeloe

Jumlah taksi di Jakarta,kini sudah mencapai angka ribuan. Padahal dulu jumlahnya hanya puluhan dan dikonsumsi oleh kalangan berduit saja. Bagaimana sejarah perkembangan kendaraan bermahkota itu hingga sampai di Batavia (Jakarta)? ADA sebuah anekdot yang populis di kalangan sopir taksi Jakarta.Anekdot itu berupa pertanyaan usil: apa bedanya penumpang taksi bule dengan penumpang taksi pribumi? Jawabannya: kalau penumpang bule saat naik taksi pemandangan sepanjang jalan yang ia lihat. Nah,kalau penumpang pribumi? Sepanjang jalan yang ia lihat adalah… Argometer! Secara historis, alat ukur pembayaran perjalanan itu memang menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan taksi di dunia. Sebelum taksi yang biasa kita kenal hari , awal perkembangan bisnis taksi dimulai dari jasa niaga penyewaan

Read More

Korupsi Pertama Sebuah Negara

Kebiasaan korupsi ternyata sudah dimulai saat  Indonesia masih tumbuh sebagai bayi DI ERA revolusi, tidak semua orang yang mengaku sebagai pejuang berprilaku baik. Kala itu selain para pejuang  yang memang benar-benar melawan Belanda, ada juga jenis pejuang yang kerjaannya “nyusahin” rakyat di daerah pendudukan selama Perang Kemerdekaan berlangsung (1945-1949). Mereka yang mengatasnamakan “berjuang demi kemerdekaan”, sesungguhnya hanya terdiri dari para “penumpang gelap” revolusi: berlaku gagah-gagahan tapi kerjaannya hanya merampok, menggarong dan memperkosa ( mayoritas korbannya perempuan-perempuan Belanda dan Indo). Tapi sesungguhnya prilaku konyol dan merugikan itu bukan hanya milik para bawahan saja ataupun terbatas hanya prilaku kaum bersenjata semata. Laiknya hari ini, di tingkat pejabat, praktek penggarongan dalam nama korupsi

Read More

Raja Jawa dan Penjual Beras.

Seorang sultan yang memperlakukan rakyatnya sebagai raja. SIAPA raja Jawa terbesar sepanjang zaman? Para sejarawan boleh saja menyebut  Panembahan Senopati sang pendiri Kerajaan Mataram atau Sultan Agung Hanyokrokusumo yang pernah dua kali menggempur VOC di Batavia. Namun jika pertanyaan itu dilontarkan kepada para sepuh di Yogyakarta saat ini, maka mereka akan menyebut nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Mengapa dia? Saat dalam bus kota menuju Bantul, seorang perempuan tua yang duduk di sebelah saya menyebut kebaikan, kesederhanaan dan kemurahan  Sri Sultan semasa hidup adalah yang menjadikannya  dekat di hati rakyat. Begitu pula saat pertanyaan sama saya ajukan kepada seorang petani  bernama Soewarso di wilayah Krebet, dengan takzim ia menyebut nama

Read More